Ketika Perpisahan Itu Terjadi
Kemarin saya pergi ke Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng. Tujuan saya ke sana adalah untuk mengantar Mbak Nina dan keluarganya yang berangkat ke Brazil. Mereka berangkat untuk menyusul Mas Benton(suami Mba Nina) yang sudah terlebih dahulu berangkat. Mereka ke Brazil untuk selama kurang lebih 3.5 tahun untuk mendampingin Mas Benton bertugas.
Saya berangkat dari kantor menuju meeting point di Tamini Square untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Kampung Rambutan. Dari Kampung Rambutan, kami naik Damri menuju Bandara.
Di tengah perjalanan, bis Damri yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti mendadak. Penumpang terlonjak ke depan dan hordeng yang tadinya tertutup, tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Cuaca saat itu dingin dan hujan, sehingga hampir seluruh penumpang dalam keadaan tertidur. Segera saja penumpang terbangun dan melongok ke arah kaca. Tampak sebuah mobil berwarna biru berhenti. Posisi bis ada di sebelah kiri mobil tersebut dan terjadi benturan keras - beberapa mobil di belakang bis Damri kami mengalami tabrakan beruntun.
Saya melihat dari jendela saya, dan sepertinya sang supir sedang melamun. Supir dengan santainya melanjutkan perjalanan. Sementara itu supir Damri berusaha mengejar sang Supir. Akhirnya berpapasan juga pada saat antrian keluar tol Cengkareng dan menghampiri sang supir mobil. Tapi supir Damri ternyata tidak meminta pengenal supir tersebut sebagai bukti. Akhirnya ku sarankan meminta SIMnya dan supir Damri kembali turun mengejar mobil tersebut.
Sekitar pukul 16.00 kami sampai di terminal 2 KLM. Sampai di sana Mbak Nina dan keluarga sudah sampai terlebih dahulu. Anaknya yang pertama - Dela - tampak asyik bermain dengan sepupunya - Iput - dan seorang temannya lagi - Laras.
Aku kemudian sibuk mengambil gambar orang-orang terutama gambar Dela dan Syifa(adiknya), kemudian sedikit bermain-main dengan kameraku - eh kamera orang yang ku pinjam
.
Detik-detik keberangkatan, suasana menjadi lebih tegang dan haru. Mata memerah karena menangis, kangen sudah terasa bahkan sebelum pesawat lepas landas. Dela - yang tidak mengerti bahwa Brazil itu sangat sangat jauuuhhh - hanya melonjak-lonjak kegirangan bahwa ia akan naik pesawat dan pergi ke luar negeri.
Perpisahan, merupakan momentum yang tak bisa lepas dari kenangan. Semua perasaan tercampur aduk di sana - haru, bangga, kebersamaan, rindu, cemas. Dan sesaat ketika perpisahan itu telah terjadi, semua memori akan kembali mengisi ruang hati - ruang rindu. Kita kembali mengingat-ingat saat bersama orang yang kita kasihi. Doa pun terucap tuk segera bertemu.
Selamat jalan Mbak Nina, Dela dan Syifa. Semoga kalian akan selalu mengingatku, mengingat Jakarta yang ruwet ini (tapi cintaaa kan), mengingat Indonesia yang indah ini…dan semoga kalian selalu mengingat Allah dalam keseharian kalian. Semoga kita segera bertemu kembali.
Tuk Dela yang selalu membuat suasana menjadi "heboh"
We all gonna miss you…