Jadikan Aku yang Terindah (5)
Empat
Semenjak dia pulang, aku tak tahu lagi bagaimana kabarnya. Pernah aku menyuratinya – ke rumahnya. Tapi paling dia bisa membacanya ketika dia di rumah. Sementara menunggunya – aku jadi menunggunya – aku disibukkan dengan revisi skripsiku dan persiapan wisuda. Hari-hari menjadi lebih ringan, tak seberat yang lalu, ketika skipsiku masih kacau berantakan.
Detik-detik menjelang wisuda hampir datang. Tak terasa, babak kehidupan yang baru akan datang memelukku. Seandainya saja dia di sini…bersama papa. Tapi aku senang, Om dan tanteku dapat hadir di acara itu.
Wisuda ku berjalan lancar – walaupun berangkatnya kesiangan. Semua prosesi dapat diikuti dari awal hingga akhir. Uuuh kasihan perutku, tidak dapat snack. Ibuku sampai menyesal tidak membekali aku dengan kue. Alhasil, karena kelaparan, sepulagnya wisuda, aku, ibu, dan sepupuku mampir ke Plaza Senayan dengan berpakaian super formal. Aku dengan kain kebayaku jadi tontonan gratis sepanjang perjalanan menuju restoran. Hehehe…
Ku berharap-harap, ada sms masuk darinya, seperti waktu dulu aku lulus sidang. Ah, lagi apa ya dia sekarang…? Jangan-jangan rambutnya sudah hilang
seperti di film-film kungfu. Hehehe… Seandainya saja ada liburan panjang lagi – long weekend – aku pengen ketemuan ah. Ehh…tapi sebentar lagi kan long weekend. Harap-harap cemas lagi dehhh..
Long weekend yang ku tunggu akhirnya sampai juga. Dia sms, mengabarkan bahwa surat dari ku sudah sampai. Mau ke kampus ngga? Kebetulan hari ini ada perlu. Begitu tulisnya. Ku balas, Iya. Ke kampus. Ya udah, aku temenin ya.
* * *
Begitulah, hari Sabtu itu kami sepakat untuk bertemu. Banyak banget yang ingin ku dengar darinya. Aku ingin tahu kegiatannya selama di sana. Lebih tepatnya, aku ingin tahu apakah ia masih “mengingat” aku.
Sabtu itu kupakai baju terbaikku. Aku datang sesegera mungkin, agar dia tidak sampai menungguku. Hari masih pagi, ketika ku jajaki kakiku di pelataran kampus.
Nafasku seperti berhenti ketika melihat bayangan dirinya. Itu dia datang. Sudah lama aku tidak melihatnya – walaupun paling berani hanya melihat punggungnya saja.
Ku tahan nafasku, ku hembuskan perlahan. Apakah itu dia? Harus ngomong apa aku nanti? Duhh, sakit peruttt
Dia masih seperti dulu. Tinggi, tegap, rapih. “ Assalamu’alaikum…” ucapnya. “ Wa’alaikum salam..” jawabku. Aku melirik sedikit kepadanya – hanya sedikit kok, benar.
Pandangannya jauh ke depan. Tak sedikitpun dia melirik kepadaku. Pembicaraan demi pembicaraan berlangsung tanpa sedikitpun dia menoleh. Aku gemas sekaligus salut.
“ Sebentar ya. Tunggu di sini aja. Aku mau ada perlu dulu sebentar, “ katanya. Aku mengangguk, lalu pura-pura
sibuk membaca buku – padahal sih grogi. Tak lama dia kembali ke bangku tempat kami duduk.
-bersambung-