Sekoper Cinta…
Sulur-sulur rindu merambati dinding, mencari tatapanmu… Langit kelam sudah, namun rindu tercampur dalam cokelat hangatku, seperti kafein mengalir dalam darahku, membangkitkan adrenalinku…
Kembali ku tengok layar-layar berpendar, yang katanya kemajuan teknologi. Ah, tipu! Kemajuan teknologi tak kan mungkin mengubah siang jadi malam, malam jadi siang, di bawah langit dunia. Kau sedang bersenda gurau, di sini waktuku gelap gulita.
Ya, sudah… Ku tekan satu per satu di bawah layar itu. Sampaikan kabar dari ku ke negeri nun jauh di sana. Mengalir melalui satelit, sejurus kemudian sampailah di sana, membawa rindu seperti remora di tubuh hiu.
Haha…kau mengajakku tertawa. Kafein yang paling ampuh tuk membuatku terjaga. Sulur-sulur rindu masih mencari tatapanmu, tawa yang tanpa suara. Aku ingin terbang ke sana walau hanya dalam mimpi…dengan harapan mungkin nanti terbangun ada kamu disampingku.
Tapi tentu tak bisa begitu. Kecuali ketika ku tertidur kau pulang ke sini. Tapi mama tentu tak kan buka pintu untukmu. Karena kita lagi belum ada serah dan terima, bukan? Paling dia suruh kau duduk di ruang tamunya dan bangunkan aku.
Sepertinya jauh deru baling-baling ku dengar. Waktu seperti siput dipaksa lari. Sepertinya kemarin-kemarin tak seperti ini. Waktu malah seperti pesawat tempur partroli angkasa. Sekarang malah seperti kereta ekonomi yang mogok-mogok. Kenapa juga bisa begitu? Rindu barangkali.
Katamu dingin di sana. Kemari lihat aku kirim sebuah pelukan untukmu. Seperti halnya kemarin kau tinggalkan sebuah pelukan tuk ku bawa-bawa selalu. Ni, kupakai sebagai penghangat. Ku dekap sebagai penawar rindu.
Nanti pulang kau bawa sekoper cinta untukku. Setumpuk rindu di baju kotormu, biar ku cuci hingga luntur.
sweet …
Comment by dhie_mario — July 18, 2007 @ 4:06 am
Makasih Med
Comment by Administrator — July 19, 2007 @ 3:42 am
waahh wirda sedang kangen ya …
Comment by hanafi — July 19, 2007 @ 4:05 am