Menciptakan Kemiskinan
Akhir-akhir ini ketika saya melewati daerah Manggarai, tampak antrian warga yang membeli minyak tanah. Saya baru sadar antriannya semakin banyak, ketika warga mengeluarkan suara cukup ribut, hingga terdengar dari dalam KRL yang saya tumpangi.
Tadi pagi, saya berfikir, betapa kaya laut kita akan mikroorganisme yang cukup tuk diolah menjadi bahan bakar, dan perkebunan kita cukup produktif untuk dijadikan sumber biofuel. Tapi mengapa mereka tak tersentuh? Apa karena biaya yang mahal atau tidak adanya tenaga tuk mengolah semua itu? Entahlah. Yang saya mengerti, dengan "meniadakan" minyak tanah, saya merasa pemerintah telah "menciptakan kemiskinan".
Masyarakat kita belum siap untuk meninggalkan minyak tanah dan beralih ke kompor gas. Daya beli masyarakat masih rendah. Karena kita masih dijajah oleh korupsi.
BIOfuel yang dikeluarkan pertamina hanya menggunakan 5-10% komposisi natural. Bukan jumlah yang besar untuk perbandingan dengan bahan migasnya.
Kalau ini mungkin lebih ke masalah energi sih.
BTW.. ada kompor pake serbuk kayu tuh.. udah pernah liat beluum
)
Comment by rahmada — September 6, 2007 @ 10:44 am
Tadi pagi liat ibu-ibu ngantri minyak di perempatan. Kasian juga pagi-pagi mereka dah ngantri walaupun pangkalan minyak blom buka.
Memang sih gas lebih murah dan bersih, tapi sepertinya masyarakat kita belom bener-bener siap untuk transisi bahan bakar dari minyak ke gas.
Comment by vladd — September 7, 2007 @ 10:20 am