Inilah Pahit dan Manisnya…
Dari awal sebelum pernikahan ini terjadi, Aa menghendaki saya menjadi ibu rumah tangga… Dia tidak bisa membayangkan apabila saya harus berangkat pagi-pagi dan pulang malam. Sejujurnya, saya pun merasa tak bisa hidup terus seperti itu.
Aa tidak pernah membayangkan, saya dengan rutinitas kantor yang padat, menomorduakan rumah tangga dan menyerahkan kepengurusan anak kepada asisten rumah tangga. Terlebih lagi dia pernah berkata, " Aku ngga kebayang, kalau kamu pulang lebih malam dari aku."
Ya! Saya benar-benar tidak bisa membayangkan apabila itu terjadi. Saya pun tidak ingin itu terjadi. Saya sadar sepenuhnya, saya ini perempuan dan seorang istri. Tentu Aa lebih menginginkan saya yang memasak untuknya, menyambutnya ketika ia pulang dan mengasuh anak-anaknya.
Sampai detik ini, kami masih berdua saja di rumah indah kami. Alhamdulillah, kami masih bisa bertahan tanpa memakai jasa asisten rumah tangga. Walaupun lelah dan harus melakukan semuanya berdua, tapi di situ kami merasakan…pahit dan manisnya tinggal berdua.
Walaupun kami kerepotan pada awalnya…tapi ternyata kami bisa
Di hari ini, tidak lupa kami ucapkan rasa syukurku kepadaMU, ya Allah, atas segala nikmat dan karuniaMU. Sungguh tak kami duga, rizkiMU datang tak putus-putus
Maha Benar FimanMU…
Ya Allah, semoga Engkau membukakan pintu rizki kepadaku sesuai dengan kodratku sebagai istri dan perempuan…agar aku bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk keluargaku. Amiiin
Sis, jangan berkecil hati dengan hambatan yg ada di depan. Insya Allah, segala sesuatu dapat dibicarakan (lebih mudah diomongkan daripada dilaksanakan, tapi kita harus sadar kalau kita & pasangan adalah dua insan berbeda yg dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Comment by Budi Margono — April 8, 2008 @ 7:02 am
wah.. semoga cita2 kalian tercapai. amin!
Comment by Santi — April 9, 2008 @ 1:39 pm