Bukan sekedar asisten
Heni namanya. Pertama kali aku ketemu dia sekitar sebulan lalu. Waktu itu aku butuh asisten rumah tangga dan kebetulan dia adalah salah seorang dari pencari posisi tersebut.
Semua bermula dari keputusanku berhenti kerja. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa memenuhi keinginan suami, untuk menjadi full time wife. Aku juga sudah siap, kalau ternyata harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Karena toh sebenarnya sedari kecil aku sudah terbiasa. Ketika SD, memasak bukanlah sesuatu yang baru untukku. SMP, aku selalu menyetrika seragamku sendiri karena aku tinggal di rumah nenek.
Rezeki memang tidak kemana… Menjelang detik-detik pengunduran diri, dokter menyatakan aku positif hamil
Suamiku, memang sudah dari dulu mengatakan tidak apa-apa pakai asisten selama dia tidak menginap. Tapi aku besikukuh nggak mau pake, paling nggak sebelum hamil besar aku masih sanggup lah.
Tapi ternyataaaa, apa daya
aku nggak sanggup tuh yang namanya nyetrika, nyapu dan ngepel.
Rasanya badan capek banget dan ga kuat. Mulailah aku panik cari2 asisten. Sampai akhirnya datang si Heni itu.
Dari kesan pertama, aku langsung cocok dan akhirnya dia mulai bekerja di rumah kami keesokan harinya. Orangnya enak diajak bicara. Alhamdulillah dia bisa baca tulis dan gesit banget dalam bekerja.
Untuk aku, dia bukan sekedar membantu-bantu di rumah, tapi juga kadang-kadang jadi temen ngobrol. Kami ngobrolin mulai dari masakan, jamu sampai terakhir berita yang paling hot tentang Syekh Puji
Heni memang ngebantu banget di rumah. Berkat dia, lantai jadi kinclong dan baju-baju jadi licin. Selain itu, aku juga jadi punya temen ngobrol di rumah. Biasanya kan kalo mau ngobrol, kudu sms/chatting/e-mail atau sore-sore ngumpul sama ibu-ibu.
Setelah ada Heni, tugas-tugas kampus dan juga bolak-balik senam dan pijet… Ku akui akhir-akhir ini aku nggak terlalu sering lagi OnLine. Mungkin karena sekarang sudah "rada" sibuk kali yeeee… ceileeee