Sabtu kemarin aku dan beberapa temanku - Widy, Ardian, Beni dan Tika janjian ketemuan di kampus. Kebetulan aku ngajar pagi dan siang. Jam 11 siang, Tika muncul bersama Yuni. Segera saja kami ribut cari makan. Aku kepingin mi yamin dan Tika setuju. Akhirnya kami beli mi yamin di gerbang kampus. Tak lama, Beni telepon mengabarkan bahwa dia sudah sampai.
Yak yak..berkumpullah kami bertiga di tempat mi Yamin (yang ternyata ngga enak rasanya). Hikz…sebal sekali. Tika sih enak…sebelum makan mi yamin dia sudah beli jagung rebus duluan. Pfff, atas dasar manusia banyak yang kelaparan, ku habiskanlah mi yamin itu.
Jreeenggg…udah mau jam setengah satu, tapi Widy belom muncul juga. Ardian belum tahu kabarnya, karena katanya Ibunya sakit. Nunggu tanpa kepastian, akhirnya jam mengajarku datang juga. Masuk sajalah, sambil menunggu Widy.
Baru setengah jam mengajar, masuk sms dari Widy. Katanya kehujanan tapi sekarang dia sudah sampai. Yo wesss, karena masih asik ngajar, jd ya sudahlah..enjoy aja.
**Di kelas**
Saat itu aku sedang mengajar tentang prospek pendidikan di masa mendatang. Inti dari kalimatku adalah pembelajaran yang dilakukan tanpa harus datang ke sekolah/kampus.
Aku : Jadiii….kalau ternyata kalian tidak perlu datang ke sekolah/kampus untuk belajar,
kira-kira menurut kalian bagaimana? Kira-kira menurut kalian apa yang hilang?
Christa : Ngga dapet uang jajan, Bu…
*Seluruh kelas tertawa* Tapi Christa menjawab dengan sangat serius.
Aku : Bukan itu yang Ibu maksud…
Sari : Ngga dapet jodoh Bu, karena di rumah terus.
*Seluruh kelas tertawa lagi*
Aku : Yaaa, sepertinya saya akan frustasi kalau kalian begini terus. Maksud saya bukan itu…
Maksud saya, jika tidak perlu datang ke sekolah, maka yang hilang adalah jarak.
Kelas : Oooohhh….
Aku : Oleh sebab itu, ada yang mengatakan bahwa "Jarak Sudah Mati". Karena sekarang
cukup menekan kata kunci saja, kemudian kalian bisa mendapat informasinya.
Akhirnya, tibalah saat-saat yang melelahkan - suara habis - dan aku merasa bintitanku nyut-nyutan. Karena hari juga sudah mulai siang, ku akhiri kelas hari itu. Kemudian menyusul teman-teman di ruanganku.
Ruangan sudah ramai dengan canda tawa. Cerita-cerita dimulai kembali, sembari mengingat masa lalu. Widy paling bahagia. Karena dia di kantor temannya orang tua semua, jadi kesepian.
Widy : Ntar dulu kenapa, jgn buru2 pulang. Gue lagi bahagia banget neh. Di kantor gw
bapak-bapak semua. masa gw diajak ngobrol dana pensiun. Omongannya tua semua.
Aku : Pantesan Wid, jadi ngefek ke muka elo…
Anak2 ketawa… Cerita demi cerita melanjut, mulai dari sarungnya Beni
sunatan, hp ilang, kredit rumah, ATM..duuuh banyak banget deh. Menjelang ashar, Widy ngajak makan batagor.
*Di tempat Batagor*
Semua pesan batagor kecuali Beni. Beni malah mesan Mi Yamin. Aku dan tika bisik-bisik keheranan, soalnya dari tadi kita makan, kita bilang ke Beni bahwa mi yamin nya ngga enak
Ardian nambah batagornya.
Ardian : Waduhhh, kayanya gw ngga nampol neh.
Tika : Lu belom makan Ar? Ampe Nambah? *Sambil Tika makan cimol dan memesan
batagor*
Ardian : Belom… *nyengir2*
Aku : Ar, coba lu tanya balik si Tika…
Ardian : Emang kenapa Wir?
Aku : Yaaa, tanya ajaaa *nyengir2 kuda ke tika*
Ardian : Lu udah makan, Tik?
Tika : Udah..tadi.
Aku : Coba sebutin apa aja
Tika : Jagung, trus mi yamin *mesem2*
Aku dan Ardian nyengir2